Jurnalismalang – Peringatan World Kidney Day 2026 dimanfaatkan Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) Malang untuk mengedukasi masyarakat terkait pentingnya deteksi dini penyakit ginjal serta pengelolaan nutrisi bagi pasien.
Dalam kegiatan yang digelar di lingkungan RSUB, dr. Etik Mertianti, SpPD., FINASIM menyampaikan bahwa kasus penyakit ginjal kronis terus menunjukkan tren peningkatan, termasuk di Kota Malang.
Menurutnya, sejak RSUB mulai bekerja sama dengan program BPJS Kesehatan pada akhir 2023, jumlah pasien yang menjalani terapi hemodialisis (cuci darah) meningkat signifikan.
“Sekarang kami memiliki 13 mesin dengan dua shift, dan semuanya sudah penuh. Total pasien yang kami layani sekitar 80 orang. Namun demikian, kebutuhan layanan masih belum sepenuhnya terpenuhi,” ujar dr. Etik.
Ia menjelaskan, keterbatasan kapasitas membuat sebagian pasien belum bisa mendapatkan jadwal ideal. Dalam kondisi normal, pasien ginjal kronis seharusnya menjalani cuci darah sebanyak dua hingga tiga kali dalam seminggu.
“Karena keterbatasan slot, ada pasien yang hanya bisa satu kali seminggu. Ini tentu belum optimal untuk terapi,” imbuhnya.
Lebih lanjut, dr. Etik menekankan pentingnya deteksi dini, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi. Edukasi tidak hanya ditujukan kepada pasien, tetapi juga keluarga sebagai bagian dari upaya pencegahan.

(dr. Etik Mertianti, SpPD.,menjawab puluhan pertanyaan dari pasien dan keluarga pasien Hemodialisa di acara World Kindney Day di RSUB Malang)
“Tren ke depan adalah meningkatkan kesadaran, baik pasien maupun keluarga. Deteksi dini dan screening sangat penting agar tidak sampai pada kondisi yang membutuhkan cuci darah rutin,” jelasnya.
Selain aspek medis, RSUB juga mengangkat isu lingkungan dalam kampanye tahun ini. Tema caring the planet menjadi perhatian karena layanan dialisis menghasilkan limbah medis dalam jumlah besar, seperti plastik dan dialyzer yang sulit terurai.
“Ini menjadi tantangan bersama, bagaimana kita tetap memberikan layanan optimal sekaligus memperhatikan dampak lingkungan,” tambahnya.
Sementara itu, ahli gizi Nanda Ari Prasetio, S.Gz., turut menyoroti pentingnya pengaturan nutrisi bagi pasien hemodialisis. Ia menyebut masih banyak pasien yang belum memahami pola makan yang tepat selama menjalani terapi.
“Pasien sering bingung terkait asupan nutrisi, cairan, hingga komposisi elektrolit. Padahal ini sangat penting untuk menunjang keberhasilan terapi,” ujarnya.
Dengan edukasi yang tepat, diharapkan pasien tidak hanya menjalani terapi secara rutin, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas hidup melalui pola makan yang sesuai.
“Harapannya, hasil terapi bisa lebih optimal dan kualitas hidup pasien meningkat,” pungkasnya. (DnD)