Jurnalismalang – Siapa sangka, Herman Rubiyanto yang merupakan anak seorang kuli bangunan kini bisa berdiri di panggung wisuda sebagai lulusan terbaik Teknik Sipil S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Lulusan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) dengan IPK 3,66 ini adalah bukti nyata bahwa semangat dan kerja keras bisa mengalahkan segala keterbatasan.
Terlahir dari keluarga sederhana di Wagir, Kabupaten Malang, Jawa Timur Herman adalah anak kedua dari dua bersaudara. Sejak SMP hingga masa awal kuliah ia terbiasa membawa bekal dari rumah untuk menghemat uang saku. Orang tuanya selalu menanamkan nilai-nilai kejujuran dan kerja keras. Pesan ayahnya “jangan sampai pinjam ke teman” menjadi pegangan hidupnya.
Awalnya, Herman tidak punya cita-cita untuk kuliah. Namun, berkat dorongan dari kepala sekolahnya saat di bangku SMA Nasional Malang pola pikirnya berubah. Mulai kelas 11 ia mempersiapkan diri untuk mendaftar beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Meskipun orang tuanya sempat khawatir dengan biaya di tengah jalan, Herman berhasil masuk ITN Malang melalui jalur KIP Kuliah.
Selama masa studi, tantangan datang silih berganti. Meski sudah mendapat bantuan KIP, kebutuhan operasional terutama biaya bahan bakar (BBM) untuk mobilitas kuliah, dan banyaknya tugas yang harus di print seringkali memberatkan. “Bapak satu-satunya tulang punggung keluarga, bekerja keras sebagai kuli bangunan. Dia selalu berusaha memenuhi kebutuhan kami,” kata Herman yang turut diwisuda pada wisuda ITN Malang ke-74 periode II tahun 2025.
Salah satu momen terberat Herman adalah saat mengambil magang di semester 5. Saat itu, ia mendapat kepercayaan untuk mengawasi empat titik proyek sekaligus sambil tetap mengikuti perkuliahan. Mobilitas yang tinggi dan tugas-tugas yang menumpuk membuat biaya operasional membengkak. Herman bahkan harus meminta tambahan biaya kepada orang tuanya.
Namun, di balik semua kesulitan itu, semangat Herman tak pernah padam. Dukungan orang tua menjadi pendorong terbesar. Sang ibu yang merupakan ibu rumah tangga seringkali menemaninya hingga tertidur di dekat Herman saat begadang mengerjakan tugas.
“Jadi bertambah semangat untuk segera menyelesaikan kuliah. Semua orang tua ingin anak-anaknya bisa lebih sukses dalam pendidikan dibanding mereka. Begitupun orang tua saya,” kenangnya yang merupakan putra dari pasangan Slamet dan Alimah ini.
Perjalanan Penuh Perjuangan di Bangku Kuliah
Menjadi mahasiswa Teknik Sipil adalah perjalanan penuh perjuangan bagi Herman. Ia banyak belajar bukan hanya soal rumus dan perhitungan, tapi juga tentang arti kesabaran dan tanggung jawab. Meski terasa berat tapi dari situ Herman belajar bahwa setiap proses adalah investasi untuk masa depan. Dukungan teman-teman seangkatan, canda tawa saat lembur, dan bimbingan dosen yang sabar menjadi pengalaman berharga yang tidak terlupakan.
“Saya masih ingat begadang semalaman menggambar AutoCAD dan perhitungan struktur yang rumit identik dengan mahasiswa Teknik Sipil pada umumnya, revisi tugas yang tak terhitung, sampai turun langsung ke lapangan untuk praktik,” ujarnya.

Selain fokus pada akademik, Herman juga aktif di berbagai kegiatan di luar kampus untuk menambah penghasilan. Ia terlibat dalam proyek-proyek kerja tentatif melalui unit usaha Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (Omek) melalui Madani Karya (MK). Ia pernah mendapat kepercayaan mengerjakan struktur renovasi fasad rumah di Singosari, dan Pendopo Pemberdayaan Lansia di Sumenep.
Memiliki keahlian dalam perhitungan struktur bangunan, pengalaman ini memberinya bekal berharga.
Herman juga pernah mendapatkan pendanaan dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2023. Ia juga mengikuti kegiatan KKNT (Kuliah Kerja Nyata Tematik) di Desa Sukorejo, Gresik, di mana ia terlibat dalam pendampingan pembangunan desa.
Skripsi Tahan Gempa di Ambon
Sebagai lulusan Teknik Sipil, Herman memiliki minat besar di bidang struktur. Hal ini mendorongnya untuk mengambil judul skripsi “Studi Alternatif Perencanaan Struktur Baja Gedung GBI Ambon Dengan Sistem Rangka Bresing Konsentris Tipe X.”
Gedung GBI Ambon, yang berlokasi di wilayah rawan gempa memerlukan perencanaan struktur yang memenuhi standar ketahanan gempa. Herman merencanakan ulang struktur gedung dari beton menjadi baja dengan penambahan bresing untuk meningkatkan kekakuan, dan mengurangi goyangan akibat gempa.
Di bawah bimbingan dosen Mohammad Erfan, ST., MT., dan Dr. Ir. Vega Aditama, ST., MT., IPM., Herman menghadapi kesulitan karena bentuk gedung yang tidak simetris dan fungsi lantai yang berbeda-beda. Namun, ia berhasil menyelesaikan skripsinya yang tebalnya mencapai 400 halaman.
Setelah kelulusannya, Herman Rubiyanto sudah mendapatkan empat tawaran kerja dari berbagai kota, seperti Bali, Pasuruan, Malang, dan Semarang. Ia berencana untuk merantau ke luar kota untuk mencari pengalaman dan mengejar cita-cita yang lebih tinggi. (DnD)