Merajut Kebinekaan Lewat Warisan Nusantara: UNITRI Gelar Pameran dan Wayang Kulit Peringati Tiga Hari Besar Nasional

Jurnalismalang, Malang — Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) kembali menunjukkan komitmennya terhadap pelestarian budaya dan penguatan nilai-nilai kebangsaan melalui gelaran acara bertajuk “Warisan Nusantara: Menyulam Kebinekaan, Merajut Bangsa”. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) dan Hari Lahir Pancasila.

Bertempat di GOR UNITRI, kegiatan yang dimulai sejak pukul 13.00 WIB ini dibuka dengan pameran budaya yang menyuguhkan kekayaan warisan Nusantara, termasuk kain tenun, masakan khas daerah, serta dokumentasi visual toko-toko kerajaan dan tokoh pelawat tempo dulu. Diiringi pertunjukan musik nasional dan pentas tari puisi, suasana semakin meriah dengan kehadiran fashion show yang menampilkan busana tradisional Indonesia.

Menurut Agustinus Ghunu, SE., M.MA., M.AP., Kepala Pusat Studi dan Pengembangan Wawasan Kebangsaan UNITRI Malang, kegiatan ini digelar sebagai bentuk refleksi dan kepedulian atas meredupnya pengetahuan generasi muda terhadap kearifan lokal.

“Sekarang ini banyak anak muda yang tidak lagi memahami warisan Nusantara. Ini karena arus teknologi yang deras, yang kadang membuat kita lupa akar kita sendiri. Melalui acara ini, kita ingin mengingatkan kembali bahwa keberagaman adalah kodrat ilahi, anugerah terbesar bangsa ini,” ujar Agustinus saat diwawancarai.

Tema “menyulam kebhinekaan” dipilih dengan makna yang mendalam. Ia menggambarkan upaya merajut harmoni dari benang-benang perbedaan yang ada — seperti suku, agama, adat istiadat, dan latar belakang lainnya — menjadi satu kesatuan yang indah layaknya kain tenun atau pelangi.

“Kalau pelangi hanya satu warna, itu bukan pelangi. Justru karena beragam warnanya, pelangi jadi indah. Bangsa kita pun begitu. Perbedaan bukan masalah, tapi justru kekuatan yang menyatukan,” tambahnya.


(Agustinus Ghunu, SE., M.MA., M.AP., Kepala Pusat Studi dan Pengembangan Wawasan Kebangsaan UNITRI Malang)

Setelah jeda istirahat pada pukul 17.00–18.30 WIB, malam harinya rangkaian kegiatan ditutup dengan pagelaran Wayang Kulit sebagai puncak acara. Pertunjukan ini dipimpin oleh Dr. Agung Suprojo, S.Kom., M.AP., dan diawali dengan prosesi penyerahan gunungan — simbol dimulainya kisah pewayangan — yang kemudian dilanjutkan dengan lakon yang sarat nilai moral dan filosofi bangsa.

Dalam surat undangan resmi yang ditandatangani Rektor UNITRI, Prof. Ir. Eko Handayanto, M.Sc., Ph.D., disebutkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari pendidikan karakter dan pemupukan semangat nasionalisme.

“Pendidikan bukan hanya soal ilmu pengetahuan, tapi juga tentang membangkitkan kesadaran kebangsaan. Di sinilah Pancasila hadir, bukan sekadar dasar negara, tapi sebagai titik temu dari seluruh perbedaan kita,” kata Agustinus.

Antusiasme peserta terlihat tinggi, mulai dari civitas akademika, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang turut hadir. Lomba Tari Jawa Timur yang diadakan di sesi pertama berhasil menyedot perhatian penonton, terutama saat para finalis menunjukkan kebolehan mereka dengan gerakan yang penuh semangat dan makna budaya.

Rangkaian kegiatan ini menjadi bukti nyata bagaimana pendidikan dan kebudayaan dapat berjalan beriringan dalam membangun identitas bangsa. Lebih dari sekadar mengenang sejarah, acara ini mengajak semua pihak — khususnya generasi muda — untuk kembali memahami jati diri Indonesia yang sesungguhnya: negara besar yang dibangun dari perbedaan, disatukan oleh semangat kebhinekaan.

Dengan harapan bahwa warisan Nusantara tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi terus hidup dan tumbuh dalam kesadaran kolektif bangsa, UNITRI menegaskan perannya sebagai kampus pelopor dalam membumikan nilai-nilai kebangsaan melalui aksi nyata. (DnD)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top