👁 333 views since Juni 30, 2026

Universitas Brawijaya Gelar Pelatihan Internal Audit Manajemen Risiko Menuju Sertifikasi ISO 31000

Kota Malang – Universitas Brawijaya (UB) terus mematangkan langkah strategis dalam memperkuat tata kelola kelembagaan yang akuntabel. Sebagai bagian dari tahapan krusial untuk meraih sertifikasi ISO 31000:2018 tentang Sistem Manajemen Risiko, Satuan Reformasi Birokrasi (SRB) Universitas Brawijaya menggelar pelatihan internal audit sistem manajemen risiko di Hotel Swiss Belinn Malang hari ini, Selasa (30/06/2026).

Agenda ini dirancang sebagai pelatihan gabungan dengan melibatkan para auditor dari tiga lembaga internal kampus, yaitu Satuan Reformasi Birokrasi, Lembaga Penjaminan Mutu, dan Satuan Pengawas Internal Universitas Brawijaya. Sinergi ini bertujuan menyamakan persepsi serta memperkuat kapasitas analisis risiko di lingkungan universitas.

Menurut Kepala Satuan Reformasi Birokrasi Universitas Brawijaya, Ngesti Dwi Prasetyo, pelatihan ini merupakan kelanjutan dari peluncuran aplikasi SEMAR UB pada Mei lalu. Saat ini, tahapan program telah memasuki proses verifikasi dan validasi oleh tim analis serta auditor.

“Harapannya memang UB lebih akuntabilitas dan kemudian menjadikan risiko di UB terkendali, sehingga capaian-capaian kinerja yang ada di Universitas Brawijaya dapat dimitigasi secara dini, dan akhirnya tujuan itu bisa tercapai dan diantisipasi sampai kemudian pada akhir tahun yang akan datang,”jelas Ngesti Dwi Prasetyo.

Dalam tata laksana manajemen ini, sistem pembagian kerja diperkuat melalui penguatan fungsi di setiap lini. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Satuan Reformasi Birokrasi Universitas Brawijaya, Mohammad Nuh, memaparkan bahwa personel di lini dua memiliki porsi besar untuk melaksanakan verifikasi data makro.

“Baik itu dalam bentuk risk register-nya mulai dari identifikasi, mitigasi risiko sampai pada validasi risiko-risiko. Nah, di situlah fungsi nanti verifikator di lini dua,”ungkap Mohammad Nuh.

Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya tersebut menambahkan, hasil verifikasi dari lini dua nantinya akan diawasi secara ketat oleh LPM dan SPI yang memegang peran di lini ketiga. Penguatan kapasitas secara serentak ini memastikan penilaian performa lini satu yang menginput data ke aplikasi SEMAR UB dapat berjalan objektif.

Sejak resmi dioperasikan, aplikasi SEMAR UB telah mendata sekitar 1.900 entri risiko, mulai dari level universitas hingga tingkat Ketua Program Studi. Seluruh perencanaan program kerja di semua tingkatan eksekutif kampus kini telah terintegrasi dalam sistem digital tersebut.

“Oleh karena itu saat ini sudah ada di tahapan proses analisis, yang kemudian akan kita nilai dan kita mitigasi risiko. Tentu yang memiliki risiko sangat tinggi akan memiliki prioritas tinggi untuk dimitigasi. Tetapi juga tidak menutup kemungkinan mitigasi-mitigasi dan perencanaan yang ada di UB akan kita telaah juga pada risiko-risiko yang mungkin belum dimasukkan, atau yang sifatnya rendah risiko,”pungkas Ngesti Dwi Prasetyo. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top