Kota Malang – Festival Anak Berprestasi Indonesia (FABI) XV tidak lagi sekadar menjadi ajang kompetisi akademik yang didominasi peserta dari Pulau Jawa. Tahun ini, festival tersebut berkembang menjadi ruang pertemuan talenta muda dari berbagai penjuru Indonesia setelah penyelenggara memperluas cakupan seleksi menjadi berskala nasional.
Perubahan itu berdampak signifikan terhadap jumlah peserta. Jika pada penyelenggaraan tahun lalu FABI diikuti sekitar 4.000 peserta, kini jumlahnya melonjak menjadi lebih dari 7.000 peserta yang berasal dari berbagai provinsi.
Ketua Pelaksana FABI XV, Arif Mustofa, mengatakan perluasan jangkauan tersebut merupakan respons atas tingginya permintaan masyarakat dari daerah yang sebelumnya belum memiliki titik seleksi.
“Selama ini banyak yang mengetahui FABI melalui media sosial maupun website kami. Mereka bertanya mengapa provinsinya belum menjadi lokasi seleksi. Dari situlah kami akhirnya membuka titik seleksi baru sehingga tahun ini cakupannya menjadi nasional,” kata Arif.
Konsekuensinya, jumlah lokasi seleksi pun bertambah cukup besar. Dari sekitar 40 titik pada FABI XIV, kini seleksi berlangsung di 56 hingga 57 titik di berbagai daerah Indonesia.
Meski kontingen dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta, dan Bali masih menjadi penyumbang peserta terbesar, daerah luar Jawa mulai menunjukkan peningkatan yang menggembirakan.
Bandar Lampung, misalnya, mengirim sekitar 90 peserta menuju grand final. Sementara Pekanbaru mengirim lebih dari 150 peserta dan Palangkaraya sekitar 60 peserta.
Arif menilai antusiasme tersebut menunjukkan bahwa kesempatan berkompetisi di tingkat nasional semakin dibutuhkan oleh sekolah maupun peserta didik di berbagai daerah.
“Anak-anak memiliki semangat yang tinggi untuk terus belajar dan berkembang. Kompetisi seperti ini bukan hanya soal mencari juara, tetapi menjadi wadah membangun mental, pengalaman, dan bekal mereka untuk masa depan,” ujarnya.
Menurutnya, pengalaman mengikuti kompetisi nasional juga memberikan nilai tambah karena peserta memperoleh pengakuan yang dapat dimanfaatkan untuk jenjang pendidikan berikutnya.
“Kami mengikuti program kurasi Puspresnas sehingga sertifikat bagi para juara nantinya bisa dimanfaatkan sebagai salah satu pendukung saat melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya,” jelasnya.

Semangat itu dirasakan langsung oleh Mardiah, orang tua peserta asal Makassar yang mendampingi putrinya mengikuti grand final di Malang. Baginya, perjalanan jauh dari Sulawesi Selatan bukan semata mengejar medali.
“Yang utama bukan juara. Saya ingin anak mendapat pengalaman dan memiliki kepercayaan diri untuk mengikuti lomba-lomba berikutnya,” tuturnya.
Ia mengungkapkan putrinya baru naik ke kelas III sekolah dasar. Sebelumnya, sang anak hanya pernah mengikuti kompetisi tingkat regional di Makassar. Kesempatan tampil di tingkat nasional menjadi pengalaman baru yang dinilai sangat berharga.
“Informasinya kami dapat dari sekolah. Setelah mengikuti seleksi di Makassar, alhamdulillah bisa lolos ke grand final,” katanya.
Peserta cilik bernama Chika mengaku menikmati tantangan yang dihadapinya pada cabang Sains dan Matematika. Meski beberapa soal terasa sulit, hal itu tidak mengurangi semangatnya untuk kembali berkompetisi.
“Soalnya ada yang sulit, ada yang mudah. Kalau nanti ada lagi, saya ingin ikut lagi,” ujar Chika.
Pada FABI XV, panitia menyiapkan sekitar 1.400 penghargaan berupa medali emas, perak, dan perunggu dari total lebih dari 7.000 grand finalis. Di setiap kategori, sekitar 120 peserta terbaik akan menjadi peraih medali.
Meluasnya jangkauan FABI memperlihatkan bahwa akses terhadap kompetisi akademik nasional kini semakin terbuka bagi anak-anak dari berbagai daerah. Bagi banyak peserta, perjalanan menuju Malang bukan sekadar mengikuti lomba, melainkan menjadi langkah awal untuk menguji kemampuan, memperluas pengalaman, dan menumbuhkan keyakinan bahwa prestasi dapat lahir dari mana saja di Indonesia. (Red)