Jurnalismalang, Malang — Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan empat guru besar lintas disiplin dalam satu hari, menandai konsistensi kampus ini dalam menyumbangkan solusi ilmiah untuk berbagai tantangan nasional dan global. Keempatnya adalah Prof. Dwi Budi Santoso, Ph.D dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Prof. Dr. Ir. Gatut Bintoro, MSc dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Prof. Dr. Eng. Masruroh, S.Si., M.Si dari Fakultas MIPA, dan Prof. Nia Kurniawan, S.Si., M.P., D.Sc dari Fakultas MIPA.
*Model Ekonomi Daerah Berbasis Data Konvergensi*
Prof. Dwi Budi Santoso dikukuhkan sebagai guru besar bidang Ekonomi Regional. Ia memperkenalkan model Klub Konvergensi Ganda (KKnDa) untuk memetakan pertumbuhan ekonomi dan ketimpangan antardaerah berbasis dinamika pendapatan dan investasi.
“Dengan KKnDa, kita bisa mengetahui dampak inovasi lokal terhadap produktivitas dan investasi secara lebih akurat,” ujar Prof. Dwi Budi. Model ini diharapkan menjadi alat bantu penting bagi perencana daerah dalam mendesain strategi pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan.
*Laut Berkelanjutan: Integrasi Ekologi, Ekonomi, dan Sosial*
Prof. Gatut Bintoro memperkenalkan model PREES-UB yang menggabungkan pendekatan ekologi, ekonomi, dan sosial dalam pengelolaan perikanan tangkap. Ia menyoroti krisis kelautan akibat overfishing, IUU fishing, dan dampak perubahan iklim.
“Pengelolaan yang baik tidak hanya berorientasi pada hasil jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan jangka panjang,” jelasnya. Keterlibatan aktif masyarakat pesisir dan pemanfaatan teknologi informasi menjadi kunci keberhasilan model ini.
*Teknologi Sensor Cerdas dari Lapisan Tipis*
Prof. Masruroh dari Fakultas MIPA menyoroti teknologi lapisan tipis dalam pengembangan sensor untuk bidang kesehatan dan lingkungan. Teknologi ini memungkinkan desain sensor yang fleksibel, sensitif, dan hemat material.

“Lapisan tipis mampu bekerja di berbagai permukaan dan lingkungan, dari gas berbahaya hingga bioaerosol seperti bakteri dan virus,” ujar Prof. Masruroh. Inovasi ini berpotensi besar dalam pengawasan kualitas udara dan diagnostik kesehatan berbasis sensor.
*Konservasi Satwa Berbasis Evolusi: Taxvertree*
Prof. Nia Kurniawan dikukuhkan sebagai guru besar bidang Taksonomi Vertebrata. Ia memperkenalkan TAXVERTREE, pendekatan integratif yang menggabungkan identifikasi morfologi, verifikasi genetik, dan analisis evolusi dalam klasifikasi spesies.
“Model ini membantu konservasi berdasarkan kekerabatan evolusioner, dan memperkuat validitas ilmiah melalui data objektif,” jelasnya. Ia menyoroti pentingnya identifikasi akurat spesies asli Indonesia di tengah ancaman perdagangan ilegal dan data asing yang tak memahami keunikan fauna lokal.
“Banyak tas mewah berbahan kulit ular yang sumbernya dari Indonesia, tapi malah diekspor lewat Malaysia atau Singapura. Padahal ular dari Jawa punya karakter genetik berbeda—ini harusnya jadi landasan hukum untuk penertiban,” tegas Prof. Nia. Ia juga mengingatkan pentingnya pelestarian ekosistem utuh, karena “katak yang dimakan ular pun bagian dari rantai penting dan harus tercatat dalam sistem seperti Taxvertree.”
Keempat profesor ini menunjukkan bahwa kontribusi keilmuan tidak hanya berhenti di ruang kuliah, tetapi terus bergerak untuk menjawab tantangan nyata: dari ketimpangan ekonomi, krisis perikanan, hingga ancaman terhadap keanekaragaman hayati Indonesia. (DnD)