Jurnalismalang – Di tepian Sungai Brantas (DAS Brantas Hulu-Lemon Putung), tepatnya di Desa Tawangrejo, Kabupaten Blitar, air mengalir tenang di antara rumpun bambu dan pepohonan. Sekumpulan anak kecil tertawa riang saat puluhan ikan badher bang berkerumun, menyambut tangannya yang menggenggam pelet. Di tempat ini, sungai bukan sekadar aliran air, tapi ruang hidup yang disayangi, dijaga, dan kini kembali diperhatikan .
Omah Iwak Badher Bank menjadi saksi dari perjalanan panjang warga desa, menyelamatkan ikan lokal yang sempat dinyatakan hilang. Populasi ikan bader/bader bang/bader abang- Barbonymus balleroides (Valenciennes, 1842), ditemukan kembali oleh kelompok masyarakat pengawas (POKMASWAS) Fajar Bengawan pada tahun 2010. Sejak itu, secara sepihak warga menetapkan zona konservasi sepanjang 200 meter pada aliran sungai yang dilindungi dari aktivitas penangkapan ikan.
Dari kepedulian dan insiatif tersebut terbentuklah destinasi wisata edukasi berbasis masyarakat. Wisata konservasi ini kini berkembang menjadi ruang edukasi dan rekreasi yang murah namun bermakna. Pengunjung juga bisa menyusuri sungai dengan perahu, memberi makan ikan yang jinak, atau duduk santai di gubuk kayu menikmati aliran Brantas. Lebih dari sekadar wisata, tempat ini adalah cermin dari semangat gotong royong, kesadaran ekologis, dan kebangkitan lokal.
Namun perjalanan menjaga kawasan ini tidak selalu mulus. Pandemi COVID-19 yang melanda sejak awal 2020 turut memukul sektor pariwisata, termasuk aktivitas di Omah Iwak Badher Bank. Kunjungan wisatawan menurun drastis, kegiatan konservasi sempat melambat, dan roda ekonomi desa ikut terdampak. Belum usai pandemi, dua kali banjir melanda kawasan ini pada tahun 2020 dan 2021.
Debit Sungai Brantas yang meluap tak hanya merusak beberapa fasilitas wisata, tetapi juga mengancam zona konservasi yang telah dijaga dengan susah payah. Di tengah kondisi itu, semangat warga tidak surut. Justru musibah-musibah tersebut memperkuat komitmen bahwa konservasi bukan hanya tentang menjaga ikan, tetapi juga tentang membangun ketangguhan sosial dan ekologi.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, perlahan kawasan ini kembali pulih dan bangkit. Upaya ini tidak berjalan sendiri, terdapat berbagai pihak yang turut berkontribusi seperti; Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Blitar melalui Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Blitar, LSM, dan akademisi.

Pada tahun 2024, Universitas Brawijaya melalui program Pengabdian Profesor hadir untuk memperkuat upaya yang telah dilakukan oleh POKMASWAS Fajar Bengawan. Dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Dewa Gede Raka Wiadnya, M.Sc bersama; Prof. Dr. Ir. Anik Martinah, M.Sc., dan Ir. Sukandar, MP (FPIK-UB), pengabdian ini menjadi bentuk nyata kolaborasi antara ilmu pengetahuan dan aksi masyarakat. Kampus hadir tidak untuk mengajari, tetapi untuk membersamai; belajar, membangun, dan menguatkan apa yang sudah dirintis oleh masyarakat (POKMASWAS). Kegiatan yang dilakukan mencakup pelatihan manajemen kelompok, peningkatan kapasitas warga dalam pengelolaan destinasi wisata, serta pembangunan infrastruktur penunjang wisata seperti toilet, sumur air bersih, dan warung tradisional.
Tak hanya berhenti pada pembangunan fisik dan peningkatan fasilitas penunjang wisata. Salah satu momen penting dari rangkaian pengabdian ini adalah kegiatan “Cangkrukan Pokmaswas Perairan Umum Daratan”—forum sarasehan yang mempertemukan masyarakat, akademisi, pemerintah, swasta, dan praktisi konservasi. Dalam suasana guyub, terdapat para pihak yang hadir, di antaranya Prof. Dr. Unti Ludigdo, S.E., M.Si., Ak., selaku Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Universitas Brawijaya; Prof. Dr. Ir. Maftuch, M.Si. selaku Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UB; serta jajaran dosen dari Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Pemerintah Kabupaten Blitar pun turut hadir yang diwakili oleh Eko Susanto, S.T., M.Si., Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan. Dari sektor swasta, Heriyanto, S.H., sebagai pengusaha yang dikenal dengan “Kung Anggur,” berperan serta dengan menyumbangkan bantuan konkret. Tidak kalah penting, para pegiat konservasi dari berbagai komunitas hadir seperti POKMASWAS Fajar Bengawan, Samurai, Dewa Ruchi, dan Tanjung Biru—semuanya membawa semangat yang sama: menjaga sungai.
Ada empat rangkaian agenda dalam cangkrukan ini. Pertama, penandatanganan kerja sama antara FPIK-UB dan POKMASWAS Fajar Bengawan serta Dewa Ruchi. Ini bukan sekadar simbolik, melainkan fondasi formal dari kolaborasi jangka panjang antara kampus dan komunitas dalam pengelolaan sumber daya perairan umum daratan. Kedua, dilakukan pula penandatanganan Kesepakatan Pengelolaan Bersama Kawasan Konservasi antara kedua POKMASWAS sebagai bentuk aliansi antar-komunitas.
Tak berhenti di sana, Prof. Gede melakukan serah terima secara simbolik pembangunan infrastruktur penunjang wisata kepada ketua POKMASWAS Fajar Bengawan. Kung Anggur menyerahkan bantuan berupa perahu KM Kung Anggur 269 HGP untuk operasional dan penunjang atraksi wisata susur sungai, sebuah bentuk nyata. Sebagai penutup, sesi pelatihan manajemen kelompok digelar, dipandu oleh Bapak Anwar, Direktur CV. Karya Pinasthika Consultan, yang membagikan pengetahuan strategis tentang pengelolaan komunitas perairan berbasis partisipatif.
Cangkrukan ini mungkin terdengar sederhana. Tapi di balik suasana santainya, ia menjadi ruang di mana strategi, komitmen, dan dukungan konkret bersatu. Dukungan tersebut diberikan dengan harapan bahwa kondisi pariwisata di Omah Iwak Badher Bank bisa semakin berkembang dan dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung. (DnD)