👁 333 views since Mei 31, 2026

Fatayat NU Kota Malang Mulai Kepengurusan Baru, Soroti Isu Kekerasan Perempuan, Literasi Digital, dan Kemandirian Ekonomi

Kota Malang – Pelantikan Pengurus Cabang Fatayat NU Kota Malang masa khidmat 2025-2030 tidak hanya menjadi agenda pergantian kepemimpinan organisasi. Kepengurusan baru justru menjadikannya sebagai momentum untuk menegaskan arah gerakan Fatayat dalam merespons sejumlah persoalan yang kini dihadapi perempuan dan keluarga di perkotaan.

Ketua PC Fatayat NU Kota Malang, Widia menilai perubahan sosial yang berlangsung cepat menghadirkan tantangan baru bagi perempuan muda. Selain meningkatnya penggunaan teknologi digital, persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak, kesehatan mental, ketahanan keluarga, hingga tekanan ekonomi menjadi isu yang membutuhkan perhatian serius.

Menurutnya, Kota Malang memiliki posisi strategis karena dikenal sebagai kota pendidikan yang dihuni ribuan mahasiswa dan perempuan muda dari berbagai daerah di Indonesia. Kondisi tersebut membuat dinamika sosial yang terjadi di Kota Malang berbeda dibanding wilayah lain.

“Kota Malang adalah kota pendidikan, kota kreatif, dan menjadi rumah bagi ribuan perempuan muda dari berbagai daerah. Di tengah transformasi digital, meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, persoalan kesehatan mental, ketahanan keluarga, hingga tantangan ekonomi global, Fatayat NU Kota Malang hadir sebagai organisasi yang relevan dan solutif,” kata Widiarini.

Berangkat dari kondisi tersebut, Fatayat NU Kota Malang menetapkan lima bidang prioritas yang akan menjadi fokus kerja organisasi hingga 2030.

Bidang pertama adalah penguatan kaderisasi dan kepemimpinan perempuan muda. Fatayat memandang kebutuhan akan kader perempuan yang memiliki kemampuan kepemimpinan semakin penting di tengah perubahan sosial yang cepat. Organisasi ingin memastikan proses kaderisasi tidak hanya menghasilkan pengurus, tetapi juga melahirkan perempuan yang mampu mengambil peran di masyarakat.

Prioritas kedua adalah ketahanan keluarga serta perlindungan perempuan dan anak. Isu ini dipilih karena masih tingginya kasus kekerasan yang melibatkan perempuan dan anak di berbagai daerah. Selain pendampingan, Fatayat juga ingin memperkuat edukasi kepada keluarga dan masyarakat mengenai upaya pencegahan.

Prioritas ketiga adalah penguatan gerakan sosial dan kemanusiaan. Fatayat ingin memperluas keterlibatan kader dalam berbagai kegiatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, terutama kelompok rentan.

Selanjutnya prioritas ke empat, organisasi akan memperkuat transformasi berbasis teknologi dan kolaborasi. Perubahan pola komunikasi masyarakat membuat organisasi harus mampu beradaptasi agar tetap efektif menjalankan program dan menjangkau kelompok sasaran yang lebih luas.

Sementara prioritas kelima adalah pemberdayaan ekonomi kader dan masyarakat. Program ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan perempuan dalam membangun usaha produktif sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga.

“Kami berkomitmen mendorong lahirnya perempuan-perempuan mandiri melalui pengembangan UMKM, ekonomi kreatif, kewirausahaan digital, dan jejaring usaha kader Fatayat Kota Malang,” ujar Widiarini.

Komitmen tersebut mulai diwujudkan melalui pengembangan usaha yang digagas kader Fatayat. Dalam pelantikan, organisasi memperkenalkan produk minuman berbahan dasar bunga rosella yang menjadi salah satu produk UMKM binaan.

Widia menjelaskan rosella dipilih karena mudah dibudidayakan dan memiliki kandungan antioksidan yang tinggi. Selain memberikan manfaat kesehatan, produk tersebut diharapkan menjadi contoh bagaimana kader Fatayat dapat mengembangkan usaha yang bernilai ekonomi.

Sementara itu Ketua PW Fatayat NU Jawa Timur, Siti Maulida, M.Pd, melihat arah gerakan yang dibangun Fatayat Kota Malang memiliki peluang besar untuk berkembang. Menurutnya, Kota Malang memiliki modal yang kuat karena ditopang oleh banyak perguruan tinggi, komunitas, dan jaringan kemasyarakatan.

Menurut Maulida, kepengurusan baru Fatayat kota Malang harus mampu memanfaatkan seluruh potensi tersebut untuk memperkuat kaderisasi sekaligus memperluas dampak organisasi.

“Malang ini kota pendidikan, kota wisata, dan pemberdayaan ekonominya luar biasa. Saya berharap Fatayat Kota Malang menjadi kecil-kecil cabai rawit. Kaderisasinya berjalan, pemberdayaan ekonominya berkembang, perlindungan perempuan dan anak semakin kuat, dan kepedulian sosialnya semakin mewarnai masyarakat,” katanya.

Siti Maulida menambahkan bahwa keberhasilan program Fatayat tidak hanya ditentukan oleh jumlah pengurus atau luas wilayah kerja. Yang lebih penting adalah kemampuan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak.

Ia menilai kehadiran unsur pemerintah, legislatif, perguruan tinggi, rumah sakit, organisasi kepemudaan, hingga komunitas perempuan dalam pelantikan menunjukkan Fatayat memiliki jejaring yang cukup kuat untuk mengembangkan program-programnya.

“Momentum hari ini jangan dijadikan hanya seremonial. Program sudah ada, jejaring sudah ada, tinggal bagaimana sahabat-sahabat bergerak menjalankannya,” tegasnya.

Ditemui di lokasi pelantikan, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Malang KH. Dr. Isroqunnajah, M.Ag menyoroti sejumlah isu yang menurutnya perlu menjadi perhatian organisasi perempuan saat ini. Salah satunya adalah tantangan yang muncul akibat perkembangan teknologi digital. Menurutnya, media sosial tidak hanya menghadirkan manfaat, tetapi juga membawa berbagai risiko yang dapat memengaruhi keluarga, anak, dan generasi muda.

“Fatayat harus mampu membentengi keluarga dari serangan ideologi transnasional dan berbagai konten negatif yang beredar di media sosial,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kondisi ekonomi yang masih diwarnai ketidakpastian. Dalam situasi tersebut, organisasi perempuan dinilai memiliki peran penting untuk mendorong lahirnya perempuan-perempuan yang produktif dan mandiri secara ekonomi.

Selain itu, Fatayat didorong untuk terlibat aktif dalam kampanye perlindungan anak dan pencegahan kekerasan seksual yang masih menjadi perhatian masyarakat.

“Fatayat perlu memberikan literasi kepada anak-anak dan kader-kadernya terkait perlindungan diri dan pencegahan kekerasan. Perempuan adalah penyangga negeri sehingga harus memiliki ketahanan dan literasi yang kuat,” katanya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top