Kadek Vito, Lulusan Terbaik Arsitektur ITN Malang, Rancang Masa Depan Lahan Pasca Tambang di Bali

Jurnalismalang – Mengubah lahan rusak menjadi pusat edukasi. Hal inilah yang dilakukan oleh Kadek Vito Krisna Ary Wijaya. Pria yang akrab disapa Vito ini dalam tugas akhirnya mengangkat isu lingkungan yang penting di tanah kelahirannya, Bali.

Atas prestasi akademiknya ia berhasil menjadi lulusan terbaik dari program studi Arsitektur S-1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), dengan IPK 3,91. Dengan begitu, Vito sekaligus menjadi lulusan terbaik di Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP).

“Saya tertarik dengan fenomena alih fungsi lahan pertanian menjadi area pertambangan galian C (pasir dan kerikil) di kaki Gunung Agung dan Gunung Batur,” katanya yang ikut diwisuda pada wisuda ITN Malang ke 74 periode II tahun 2025.

Vito memilih lokasi di Kintamani karena aksesibilitasnya yang lebih baik, dan sektor pariwisatanya yang berkembang pesat. Ia melihat potensi besar untuk mengubah lahan pasca-tambang yang rusak menjadi sesuatu yang bermanfaat, khususnya bagi para petani dan warga di sekitar lokasi.

“Bagi petani, isu alih fungsi lahan ini sangat menarik. Meskipun untuk jangka pendek memberikan keuntungan yang besar, tapi dampak jangka panjangnya sangat buruk bagi lingkungan,” jelas putra pasangan I Gede Agus Wijaya, dan Ni Ketut Winarti ini.

Melalui skripsinya yang berjudul “Agro Edu-wisata Rekreatif pada Lahan Pasca Tambang di Kintamani”, Vito menerapkan konsep Arsitektur Regeneratif yang berfokus pada pemulihan. Proyeknya tidak hanya merancang bangunan, tetapi juga memulihkan lahan secara fisik melalui reklamasi dan perbaikan top soil untuk menghidupkan kembali ekosistem. Desainnya mencakup fasilitas pendukung seperti restoran, toko ritel yang menjual hasil pertanian, area bermain, teater mini untuk edukasi pertanian, dan lain sebagainya.

Pria asal Denpasar ini juga memasukkan unsur Agro Edu-wisata Rekreatif, yaitu menggabungkan sektor pariwisata dengan edukasi pertanian. Tujuannya adalah memberikan pengalaman unik bagi pengunjung sekaligus meningkatkan kesadaran tentang alam dan pentingnya pertanian.

Proyek ini dirancang di atas lahan seluas 1,5 hektare, dengan bimbingan dosen Bayu Teguh Ujianto, ST., MT., dan Amar Rizqi Afdholy, ST., MT. Karya Vito ini juga berhasil menjadi finalis dalam kompetisi tugas akhir di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada Agustus 2025, yang menilai aspek berkelanjutan (sustainable) dalam konstruksi.

Saat ini, Vito sudah aktif bekerja sebagai freelancer di Bali. Ia terlibat dalam proyek-proyek di Sanur dan memiliki pengalaman magang mandiri melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di DDAP Architect, sebuah studio arsitek terkemuka di Bali.

“Saya jadi tahu bagaimana proses perancangan di dunia kerja, berinteraksi dengan klien, dan menyampaikan konsep. Ilmu dari kampus bisa saya terapkan dan komparasikan dengan praktik langsung di lapangan,” ungkapnya yang merasa pengalaman magangnya sangat berharga.

Vito memiliki impian untuk mendirikan studio arsiteknya sendiri di masa depan, tetapi ia menyadari perlu banyak belajar dan mengumpulkan pengalaman terlebih dahulu. “Untuk saat ini, fokus saya adalah belajar dari proyek-proyek yang ada di lapangan. Kalau mau punya biro sendiri harus ada STRA (Surat Tanda Registrasi Arsitek) sebagai bukti kelayakan praktek,” tambah alumnus SMA Negeri 6 Denpasar ini.

Vito menceritakan, ia mulai mengenal dunia arsitektur setelah masuk ITN Malang. “Sebagai lulusan SMA yang jarang membahas arsitektur, saya merasa dosen dan pengajar di ITN mampu menyamaratakan mahasiswanya, sehingga saya bisa mengikuti proses pembelajaran dengan baik,” tuntasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top