👁 482 views since Juni 11, 2026

Gelar ICSDGs 2026, Universitas Brawijaya Akselerasi 17 Indikator Pembangunan Berkelanjutan

Kota Malang – Sebagai bagian dari upaya nyata memperkuat komitmennya sebagai institusi pendidikan dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals), Universitas Brawijaya (UB) menggelar agenda akbar bertajuk International Conference on Sustainable Development Goals (ICSDGs) tahun 2026 mulai pagi hari tadi, Kamis (11/06/2026).

Kegiatan konferensi tingkat internasional ini dihadiri oleh Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Imam Santoso, MP., dimana agenda ini sukses menyedot perhatian dunia akademik global dengan diikuti oleh sekitar 240 orang peserta yang berasal dari 15 negara berbeda.

Usai pembukaan konferensi, Prof. Imam menyampaikan bahwa pelaksanaan agenda akbar oleh Universitas Brawijaya melalui Center SDGs UB ini memiliki target utama sebagai wadah diseminasi hasil-hasil penelitian, hilirisasi inovasi, sekaligus sarana sharing gagasan di antara para pemangku kepentingan (stakeholders) internal maupun eksternal.

“Selain itu juga bersama dengan para peneliti global untuk saling menyampaikan dan mendiskusikan hal-hal baru dari hasil risetnya yang berkaitan dengan bagaimana mereka berkontribusi secara proaktif pada pencapaian indikator-indikator, terutama secara agregatif pada 17 indikator SDGs,” ungkap Prof. Imam Santoso.

Sementara itu menurut Ketua Panitia ICSDGs 2026, Fitri Hariana Oktaviani, S.S., SE., M.Commun., Ph.D., dalam agenda konferensi internasional tahun ini juga menghadirkan forum ilmuwan muda sebagai upaya transfer pengetahuan ekologis yang berkesinambungan antargenerasi.

“Kali ini ada juga Young Researchers Forum untuk memastikan bahwa generasi penerus juga belajar tentang SDGs. Kita juga didukung oleh Scientific Committee yang berasal dari berbagai negara di Asia dan Australia. Dan ada juga jurnal yang berkolaborasi dengan berbagai macam jurnal terindeks Scopus Q1 dari Malaysia, dan juga Q4, termasuk dari proceeding terindeks Scopus. Di sini kita ada juga keynote speaker dari tiga negara, dari Indonesia, Jepang, dan Belanda,” ungkap Fitri Hariana Oktaviani.

Prof. Imam menambahkan, dalam ajang ini panitia juga menyelenggarakan pameran karya sebagai bukti konkret bahwa seluruh aktivitas riset dan pengembangan teknologi yang dilakukan oleh Universitas Brawijaya selama ini senantiasa konsisten berada dalam koridor serta perspektif pembangunan berkelanjutan. Pencapaian tersebut berdampak langsung pada penguatan indikator performa utama kampus, yang tercermin dari meroketnya reputasi UB dari sisi sustainability dalam pemeringkatan World University Ranking.

“Jadi di poin ini, nilai UB secara konsisten terus meningkat signifikan yang berarti bahwa UB dalam proses akademik, riset, inovasi, community development, dan seluruh kegiatan-kegiatan yang bersentuhan dengan 17 butir itu UB meningkat secara konsisten. Artinya, seluruh program yang kita lakukan itu sudah on the track, bahwa program-program yang dilaksanakan oleh dosen, sivitas akademika UB itu memberikan kontribusi pada peningkatan pencapaian SDGs,” jelas Prof. Imam.

Melalui momentum konferensi ini, UB menegaskan komitmennya untuk memacu akselerasi pencapaian target-target SDGs. Salah satu strategi baru yang disiapkan adalah pemberian penghargaan (awarding) berkala untuk memotivasi lini internal agar tetap proaktif memberikan sumbangsih pemikiran maupun aksi nyata, serta memperkuat engagement dengan stakeholders nasional maupun internasional untuk kegiatan yang lebih kolaboratif.

Ditemui di momen yang sama, Ketua Global Partnership and Reputation Universitas Brawijaya, Hendrix Yulis Setyawan, S.TP., M.Si., Ph.D., menguraikan bahwa fokus manajemen Universitas Brawijaya ke depan adalah memperluas penanaman pemahaman (awareness) secara masif.

“Jadi ada campaign untuk SDGs mulai dari awarding, kemudian laporan sustainability setiap fakultas, dan kemudian kita ada conference ini. Jadi sebenarnya ada macam-macam bentuk kegiatan untuk penanaman awareness ke sivitas akademika Universitas Brawijaya bahwa kita memiliki tujuan yang sama,” urai Hendrix.

Langkah penguatan dari sisi kebijakan tata kelola institusi tersebut ditopang kuat oleh produktivitas para dosen dan peneliti, di mana berdasarkan data dalam kurun waktu lima hingga enam tahun terakhir Universitas Brawijaya telah melahirkan lebih dari 6.000 artikel ilmiah (papers) bereputasi yang berkorelasi langsung dengan upaya pemenuhan target SDGs.

“Jadi ke depan kita akan terus meningkatkan baik dari sisi riset, pengabdian masyarakat, dan kegiatan-kegiatan UB, terutama di internal UB sendiri. Tahun ini kita punya Green Campus yang juga menangani beberapa pencapaian UB untuk SDGs, kemudian bagaimana kita juga meningkatkan pengelolaan kampus yang sustainable,” ungkap Hendrix.

Selaras dengan esensi konferensi tersebut, internal Universitas Brawijaya sendiri terbukti telah melakukan berbagai langkah operasional di dalam ruang lingkup kampus guna menekan dampak pemanasan global secara riil.

Menurut Ketua Sustainable Development Goals (SDGs) Universitas Brawijaya, Novia Lusiana, STP., M.Si., Ph.D., membeberkan data menggembirakan mengenai adanya penyusutan volume produksi emisi gas buang secara signifikan di area kampus dalam kurun waktu satu tahun terakhir melalui kebijakan pembatasan mobilitas, salah satunya lewat program Car Free Day.

“Kemudian kita melakukan perhitungan emisi secara real-time saat dilaksanakan pembatasan kendaraan yang masuk ke dalam kampus UB. Nah, hasilnya memang dari tahun ke tahun menurun untuk emisinya, dan kita harapkan 2030 kita bisa mencapai net zero emission. Dari tahun lalu ke tahun ini ada penurunan emisi sekitar 10 hingga 15 persen,” pungkas Novia Lusiana. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Top