{"id":16672,"date":"2025-05-10T16:10:19","date_gmt":"2025-05-10T09:10:19","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalismalang.com\/?p=16672"},"modified":"2025-05-10T21:17:52","modified_gmt":"2025-05-10T14:17:52","slug":"cor-unum-et-anima-una-buah-karya-biarawati-ursulin-memperkaya-sumber-sejarah-kota-malang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/2025\/05\/10\/cor-unum-et-anima-una-buah-karya-biarawati-ursulin-memperkaya-sumber-sejarah-kota-malang\/","title":{"rendered":"Cor Unum et Anima Una: Buah Karya Biarawati Ursulin Memperkaya Sumber Sejarah Kota Malang"},"content":{"rendered":"<p>Jurnalismalang, Malang \u2013 Sejak pendiriannya di tahun 1900 hingga saat ini, Biara Ursulin Cor Jesu Malang menyimpan banyak cerita, termasuk sebagai saksi sejarah di masa Perang Kemerdekaan Indonesia. Bersumber dari Kronik Biara Kepanjen-Surabaya dan Malang yang ditulis dalam Bahasa Belanda dan Prancis oleh para biarawati pendahulu, Sr. Lucia Anggraini menyusun kembali karya mereka dalam buku Cor Unum et Anima Una yang terdiri dari dua jilid. <\/p>\n<p>\u201cCor Unum et Anima Una merupakan nasihat terakhir Santa Angela Merici, pendiri Kompani Santa Ursula\/Ursulin, yang artinya hendaklah kamu semua saling sehati dan sejiwa,\u201d terang Sr. Lucia di sela-sela acara peluncuran buku ini di Aula Kampus Cor Jesu Malang pada Sabtu (10\/05). <\/p>\n<p>Menurut Sr. Lucia, kronik karya para biarawati asing yang menemukan rumah baru di Kota Malang, terlalu sayang untuk didiamkan dan tak dibaca orang. Oleh karena itu, dirinya berinisiatif mengalihbahasakan karya para biarawait tersebut agar dapat dinikmati generasi mendatang. <\/p>\n<p>Sejarawan dan budayawan Malang, Dwi Cahyono, yang juga hadir dalam peluncuran buku Cor Unum et Anima Una memandang positif inisiatif tersebut, karena akan menjadi pelengkap informasi penting dalam rangkaian sejarah Kota Malang. <\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/jurnalismalang.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/IMG-20250510-WA0059.jpg\" alt=\"\" width=\"1600\" height=\"912\" class=\"alignnone size-full wp-image-16674\" srcset=\"https:\/\/jurnalismalang.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/IMG-20250510-WA0059.jpg 1600w, https:\/\/jurnalismalang.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/IMG-20250510-WA0059-300x171.jpg 300w, https:\/\/jurnalismalang.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/IMG-20250510-WA0059-1024x584.jpg 1024w, https:\/\/jurnalismalang.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/IMG-20250510-WA0059-768x438.jpg 768w, https:\/\/jurnalismalang.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/IMG-20250510-WA0059-1536x876.jpg 1536w, https:\/\/jurnalismalang.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/IMG-20250510-WA0059-800x456.jpg 800w, https:\/\/jurnalismalang.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/IMG-20250510-WA0059-1000x570.jpg 1000w\" sizes=\"auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px\" \/><\/p>\n<p>\u201cDulu saya mengalami kesulitan untuk mengekspos sejumlah informasi yang khusus intern Gereja Kristen atau Katolik, atau  Biara,\u201d jelas Dwi. \u201cKarena saat ini pihak beliau-beliau sendiri yang membuka informasi tersebut, maka hal ini akan menjadi jawaban atas missing link dalam sejarah Kota Malang.\u201d <\/p>\n<p>Saat ini, buku Cor Unum et Anima Una bisa dibeli langsung di Biara Ursulin Cor Jesu Malang seharga Rp 60 ribu. Para pembaca akan dapat melihat berbagai bukti foto otentik berkenaan dengan sejarah Kota Malang yang mungkin belum pernah dilihat di sumber mana pun. <\/p>\n<p>\u201cKhusus bagi para pecinta sejarah Kota Malang, beberapa hal akan menjadi jelas setelah membaca buku ini nanti. Antara lain, mengapa Balai Kota dibangun di lokasi yang sekarang ini,\u201d pungkas Dwi. (DnD)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jurnalismalang, Malang \u2013 Sejak pendiriannya di tahun 1900 hingga saat ini, Biara Ursulin Cor Jesu Malang menyimpan banyak cerita, termasuk sebagai saksi sejarah di masa Perang Kemerdekaan Indonesia. Bersumber dari Kronik Biara Kepanjen-Surabaya dan Malang yang ditulis dalam Bahasa Belanda dan Prancis oleh para biarawati pendahulu, Sr. Lucia Anggraini menyusun kembali karya mereka dalam buku [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":16675,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-16672","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"views":186,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16672","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16672"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16672\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16691,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16672\/revisions\/16691"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16675"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16672"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16672"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16672"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}