{"id":16597,"date":"2025-04-30T20:57:39","date_gmt":"2025-04-30T13:57:39","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalismalang.com\/?p=16597"},"modified":"2025-04-30T20:57:39","modified_gmt":"2025-04-30T13:57:39","slug":"ub-identifikasi-genus-dan-spesies-baru-mikroalga-dari-laut-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/2025\/04\/30\/ub-identifikasi-genus-dan-spesies-baru-mikroalga-dari-laut-indonesia\/","title":{"rendered":"UB Identifikasi Genus dan Spesies Baru Mikroalga dari Laut Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>(Catenela Decusa _ISDR)<br \/>\nJurnalismalang &#8211; Indonesia kembali menunjukkan kekayaan biodiversitas lautnya melalui penemuan ilmiah yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Brawijaya (UB). Dipimpin oleh dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Oktiyas Muzaky Luthfi, S.T., M.Sc., tim berhasil mengidentifikasi dua genus baru dan tujuh spesies baru mikroalga dari famili Catenulaceae di wilayah Pulau Bawean dan Teluk Tomini, Sulawesi Tengah.<\/p>\n<p>Penelitian ini merupakan hasil kerja sama UB dengan Universitas Szczecin, Polandia, serta melibatkan berbagai institusi mitra. Menggunakan teknik analisis morfologi berbasis mikroskop cahaya dan mikroskop elektron pemindai (SEM), para peneliti menelusuri keragaman diatom dari sedimen dan pecahan karang mati di lingkungan laut tropis dangkal.<\/p>\n<p>Dua genus baru yang ditemukan adalah Paracatenula dan Wallaceago. Paracatenula porostriata ditemukan di Gili Iyang, Bawean. Ciri khasnya, cangkangnya punya struktur melingkar dengan lubang-lubang kecil dan bentuk katupnya pipih, seperti atas dan bawah yang berbeda. <\/p>\n<p>Sementara itu, Wallaceago porostriatus ditemukan di Teluk Tomini. Yang membuatnya unik adalah bentuk katupnya yang setengah menyerupai belah ketupat, dengan garis-garis halus hanya terlihat di bagian bawahnya. <\/p>\n<p>Nama Wallaceago diberikan sebagai penghormatan untuk Alfred Russel Wallace, tokoh penting dalam sejarah biogeografi di Indonesia.<br \/>\nPara peneliti juga menemukan lima spesies baru dari kelompok Catenula, yaitu Catenula boyanensis, Catenula komodensis, Catenula decusa, Catenula densestriata, dan Catenulopsis baweana. <\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/jurnalismalang.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Wallecago-Porostriatus-_ISDR.jpeg\" alt=\"\" width=\"1600\" height=\"855\" class=\"alignnone size-full wp-image-16599\" srcset=\"https:\/\/jurnalismalang.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Wallecago-Porostriatus-_ISDR.jpeg 1600w, https:\/\/jurnalismalang.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Wallecago-Porostriatus-_ISDR-300x160.jpeg 300w, https:\/\/jurnalismalang.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Wallecago-Porostriatus-_ISDR-1024x547.jpeg 1024w, https:\/\/jurnalismalang.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Wallecago-Porostriatus-_ISDR-768x410.jpeg 768w, https:\/\/jurnalismalang.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Wallecago-Porostriatus-_ISDR-1536x821.jpeg 1536w, https:\/\/jurnalismalang.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Wallecago-Porostriatus-_ISDR-800x428.jpeg 800w, https:\/\/jurnalismalang.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/Wallecago-Porostriatus-_ISDR-1000x534.jpeg 1000w\" sizes=\"auto, (max-width: 1600px) 100vw, 1600px\" \/><br \/>\n(Wallecago Porostriatus _ISDR)<\/p>\n<p>Kelima spesies ini masing-masing punya ciri khas, mulai dari pola garis-garis di permukaan cangkangnya, bentuk katup yang beragam, sampai hiasan-hiasan kecil dari zat keras mirip pasir (yang disebut silika) yang membuat setiap spesies terlihat unik.<\/p>\n<p>Oktiyas Muzaky Luthfi menjelaskan bahwa penemuan ini memiliki nilai penting tidak hanya dari segi taksonomi, tetapi juga sebagai dasar bagi pemantauan lingkungan laut, ekologi perairan tropis, dan kajian paleoekologi.<br \/>\n\u201cIni membuktikan bahwa laut Indonesia menyimpan banyak kehidupan mikroskopik yang belum kita pahami sepenuhnya,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Lebih jauh, Luthfi mengajak mahasiswa untuk tidak takut memulai riset di bidang-bidang yang belum banyak disentuh, seperti mikroalga.<br \/>\n\u201cSering kali mahasiswa bingung mencari judul skripsi, merasa mentok, padahal sumber ide ada di sekitar kita. Dengan kekayaan biodiversitas seperti ini, seharusnya tidak ada alasan untuk kehabisan ide,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Penemuan ini sudah dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi. Oktiyas menambahkan, studi ekologi dan taksonomi mikroalga dapat menghasilkan lebih banyak publikasi ilmiah yang bereputasi, serta membuka peluang kontribusi besar dalam dunia akademik dan lingkungan yang dapat memperkuat kontribusi UB dalam bidang kelautan dan ilmu hayati global.<\/p>\n<p>\u201cUB punya potensi besar untuk menjadi pusat penelitian mikroorganisme laut. Kami sebagai dosen juga berkomitmen untuk terus menerbitkan temuan spesies baru. Sebuah langkah yang tidak hanya membanggakan secara ilmiah, tetapi juga membawa nama UB ke kancah internasional,\u201d pungkasnya. [RBK\/MIT]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Catenela Decusa _ISDR) Jurnalismalang &#8211; Indonesia kembali menunjukkan kekayaan biodiversitas lautnya melalui penemuan ilmiah yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Brawijaya (UB). Dipimpin oleh dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Oktiyas Muzaky Luthfi, S.T., M.Sc., tim berhasil mengidentifikasi dua genus baru dan tujuh spesies baru mikroalga dari famili Catenulaceae di wilayah Pulau Bawean [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":16600,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-16597","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"views":50,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16597","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16597"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16597\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16601,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16597\/revisions\/16601"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16600"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16597"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16597"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16597"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}