{"id":12793,"date":"2023-10-23T14:56:21","date_gmt":"2023-10-23T07:56:21","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalismalang.com\/?p=12793"},"modified":"2023-10-23T14:56:21","modified_gmt":"2023-10-23T07:56:21","slug":"limbah-cangkang-tiram-bahan-alternatif-baterai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/2023\/10\/23\/limbah-cangkang-tiram-bahan-alternatif-baterai\/","title":{"rendered":"Limbah Cangkang Tiram Bahan Alternatif Baterai"},"content":{"rendered":"<p>Jurnalismalang- Tim Mahasiswa dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) menemukan potensi limbah cangkang tiram digunakan sebagai bahan baterai kendaraan listrik. Temuan ini disebut Crossta Baterry. <\/p>\n<p>Tim yang beranggotakan Ahmad Multazam Abdan, Ahmad Syarwani, Izza Lailatul Kasanah, Zainurrohman Prastomo, Uray Keisya Ranaputri dan dibimbing oleh Prof. Akhmad Sabarudin, M.Sc., Dr.Sc. ini melakukan riset terhadap kandungan kalsium oksida yang ada pada cangkang tiram sebagai bahan baku baterai yang merupakan salah satu sumber energi masa depan yang bayak digunakan sebagai sumber energi kendaraan listrik. Penelitian ini didanai oleh Kemendikbudristek dan Universitas Brawijaya melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Eksakta. <\/p>\n<p>\u201cBaterai-baterai yang beredar dan digunakan saat ini, misalnya baterai Lithium atau baterai Nickel-Metal Hydride (Ni-MH), tidak banyak ditemukan di bumi serta membutuhkan biaya yang tinggi dalam pemanfaatannya, \u201d tutur Ahmad Multazam selaku ketua tim. Selain itu, Indonesia juga harus mengimpor unsur-unsur baterai tersebut dari China yang membuat biaya produksinya semakin membengkak. <\/p>\n<p>Kalsium adalah mineral  paling banyak jumlahnya di  tubuh hewan dan manusia. Kalsium memiliki banyak manfaat dan melimpah di lingkungan sekitar. Salah satu pemanfaatan kalsium adalah sebagai bahan baku elektroda  baterai untuk memproduksi baterai kalsium. <\/p>\n<p>Dijelaskannya, baterai kalsium mudah  diisi ulang sehingga memiliki potensi besar untuk perkembangan teknologi di bidang energi di masa depan. Pasalnya, baterai kalsium mengandung bahan baku yang melimpah dan biaya produksinya lebih rendah dibandingkan baterai jenis  lainnya.<\/p>\n<p>\u201cBaterai kalsium (Ca-Ion) adalah inovasi penyimpanan daya dimana menggunakan kalsium sebagai bahan utamanya. Yang mana kalsium lebih mudah ditemukan keberadaannya di alam, sehingga harga baterai kalsium tergolong lebih murah daripada jenis baterai lain, \u201dtutur Multazam. <\/p>\n<p>\u201cPada riset ini dilakukan proses pengujian terhadap sintesis kalsium oksida cangkang tiram yang telah dilakukan kalsinasi menggunakan beberapa instrumen seperti, FTIR, AAS, Powder XRD, dan SEM EDX, dilanjutkan dengan hasil uji kelistrikan menggunakan RLC Meter. Melalui pengujian tersebut menunjukkan bahwa CaO hasil kalsinasi 800\u00b0C berpotensi untuk dilanjutkan ke pengujian efektivitas baterai\u201d ujar ketua tim riset Crossta Baterry itu.  <\/p>\n<p>Multazam menambahkan bahwa walaupun riset ini masih dalam tahap pengembangan dan masih memerlukan banyak evaluasi untuk menghasilkan bahan baku aternatif baterai yang efektif dan efisien, akan tetapi diharapkan riset ini dapat terus dioptimalisasi dan dikembangkan lebih lanjut. <\/p>\n<p>\u201cHarapannya bisa masuk PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) yang mewakili UB (Universitas Brawijaya). Saat ini juga masih dilakukan pengembangan yang lebih baik lagi dan semoga bisa menjadi riset yang bisa berguna dan diterapkan secara meluas di dunia industri khususnya untuk baterai kendaraan listrik,\u201d pungkasnya.(tim\/DnD)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jurnalismalang- Tim Mahasiswa dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) menemukan potensi limbah cangkang tiram digunakan sebagai bahan baterai kendaraan listrik. Temuan ini disebut Crossta Baterry. Tim yang beranggotakan Ahmad Multazam Abdan, Ahmad Syarwani, Izza Lailatul Kasanah, Zainurrohman Prastomo, Uray Keisya Ranaputri dan dibimbing oleh Prof. Akhmad Sabarudin, M.Sc., Dr.Sc. ini melakukan riset terhadap [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":12794,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-12793","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"views":69,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12793","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12793"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12793\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12795,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12793\/revisions\/12795"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12794"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12793"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12793"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12793"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}