{"id":17030,"date":"2025-06-23T15:16:41","date_gmt":"2025-06-23T08:16:41","guid":{"rendered":"https:\/\/jurnalismalang.com\/?p=17030"},"modified":"2025-06-23T15:16:41","modified_gmt":"2025-06-23T08:16:41","slug":"ancaman-brain-rot-pakar-ub-sarankan-digital-hygiene-pada-anak","status":"publish","type":"post","link":"http:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/2025\/06\/23\/ancaman-brain-rot-pakar-ub-sarankan-digital-hygiene-pada-anak\/","title":{"rendered":"Ancaman \u2018Brain Rot\u2019, Pakar UB Sarankan Digital Hygiene pada Anak"},"content":{"rendered":"<p>Jurnalismalang &#8211; Fenomena \u2018brain rot\u2019 yang kini marak di kalangan anak dan remaja menjadi perhatian serius para pendidik. Istilah ini mengacu pada penurunan kemampuan berpikir dan konsentrasi akibat paparan konten video singkat yang berulang di media sosial.<\/p>\n<p>Pakar Linguistik dan Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) Devinta Puspita Ratri, S.Pd., M.Pd., menjelaskan, bahwa brain rot bukanlah kerusakan otak secara fisik, tetapi kondisi mental akibat teknologi yang menuntut respons cepat dan instan.<\/p>\n<p>\u201cKonten-konten pendek membuat otak terbiasa bekerja dalam waktu singkat. Anak-anak menjadi tidak sabaran, sulit fokus, dan kehilangan minat untuk membaca,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Menurut Devinta, fenomena ini juga memengaruhi pola pikir anak-anak yang mulai mengidolakan konten viral tanpa mempertimbangkan nilai edukatif. \u201cBanyak dari mereka hanya mengejar popularitas di media sosial tanpa memperhatikan kualitas kontennya. Ini menumbuhkan budaya instan dan dangkal,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ia juga menyoroti peran teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), yang semakin membuat anak-anak bergantung dan enggan berpikir mandiri. \u201cSekarang banyak yang hanya mengandalkan AI tanpa mau memahami, padahal berpikir kritis itu tetap harus dilatih,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Dampak jangka panjang dari brain rot, lanjut Devinta, bisa merusak aspek kognitif, sosial, dan emosional anak. Anak-anak menjadi malas berpikir logis, mudah terdistraksi, mengalami penurunan daya konsentrasi, bahkan kehilangan motivasi untuk mencapai tujuan melalui proses panjang.<\/p>\n<p>\u201cBeberapa komentar anak di media sosial menunjukkan rendahnya pemahaman dasar. Bahkan ada yang menyebut Garut sebagai negara di Eropa. Ini sangat mengkhawatirkan,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Untuk itu, ia menekankan pentingnya keterlibatan aktif orang tua dan sekolah. Orang tua harus mendampingi anak saat menggunakan gawai, membatasi waktu layar, serta menyediakan kegiatan alternatif non-digital seperti bermain fisik atau membaca buku.<\/p>\n<p>\u201cAnak-anak harus dikenalkan pada digital hygiene, yaitu kemampuan memilah konten yang bermanfaat,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Sekolah pun didorong untuk mengajarkan cara berpikir logis dan kritis, bukan sekadar menyampaikan materi. Sementara itu, pemerintah melalui Kominfo juga diminta lebih tegas dalam menyaring konten yang tidak mendidik.<\/p>\n<p>\u201cKonten-konten receh dan sensasional masih banyak berseliweran. Ini tugas bersama, bukan hanya pemerintah, tapi juga masyarakat,\u201d tegas Devinta.<br \/>\nIa berharap seluruh elemen, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah, hingga masyarakat digital, dapat bersinergi untuk melindungi generasi muda dari dampak negatif digitalisasi.<\/p>\n<p>\u201cFenomena brain rot ini hanya bisa dicegah dengan kerja kolektif. Semua harus ambil peran,\u201d pungkasnya. [RST\/MIT]<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jurnalismalang &#8211; Fenomena \u2018brain rot\u2019 yang kini marak di kalangan anak dan remaja menjadi perhatian serius para pendidik. Istilah ini mengacu pada penurunan kemampuan berpikir dan konsentrasi akibat paparan konten video singkat yang berulang di media sosial. Pakar Linguistik dan Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) Devinta Puspita [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":17031,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-17030","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"views":62,"_links":{"self":[{"href":"http:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17030","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"http:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"http:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17030"}],"version-history":[{"count":1,"href":"http:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17030\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":17032,"href":"http:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17030\/revisions\/17032"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"http:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17031"}],"wp:attachment":[{"href":"http:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17030"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"http:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17030"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"http:\/\/jurnalismalang.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17030"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}